Rabu, 30 Mei 2012

PARAMETER FISIK KUALITAS AIR

1.             Rasa
Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berasa. Timbulnya rasa yang menyimpang biasanya disebabkan adanya gas terlarut misalnya H2S, Organisme hidup misalnya ganggang, adanya limbah padat dan limbah cair misalnya hasil buangan dari rumah tangga, adanya organisme pembusuk limbah, dan kemungkinan adanya sisa-sisa bahan yang digunakan untuk disinfeksi misalnya Chlor yang masuk ke badan air.

2.             Bau
Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berbau. Bau ini dapat ditimbulkan oleh benda asing yang masuk ke dalam air, seperti bangkai binatang, bahan buangan, maupun disebabkan oleh proses penguraian senyawa organik dan bakteri. Pada peristiwa penguraian senyawa organik yang dilakukan oleh bakteri tersebut dihasilkan gas-gas berbau menyengat bahkan ada yang beracun seperti H2S, NH3, dan gas-gas lainnya. Pada peristiwa penguraian zat organik berakibat meningkatnya penggunaan oksigen terlarut di air (Biological Oxygen Demand) oleh bakteri, dan mengurangi kandungan kualitas oksigen terlarut (Disvolved Oxygen) dalam air, sehingga di dalam air minum tidak ada bau yang merugikan penggunaan air.

3.             Warna
Warna perairan ditimbulkan oleh adanya bahan organik, dan anorganik karena keberadaan plankton, humus, dan ion-ion logam (misalnya besi, dan mangan), serta bahan-bahan lain. Adanya oksida besi menyebabkan air berwarna kemerahan, sedangkan oksida mangan menyebakan air berwarna kecokelatan atau kehitaman. Kalsium Karbonat yang berasal dari daerah berkapur menimbulkan warna hijau pada perairan. Bahan organik misalnya tangin, lignin, dan hasam humus yang berasal dari dekomposisi tumbuhan yang telah mati, sehingga menimbulkan warna kecokelatan.
Warna dapat diamati secara visual (langsung) ataupun diukur berdasarkan skala Platinum Kobalt (PtCo), dengan membandingkan warna air sampel dan standar warna yang ditetapkan pemerintah. Standar air yang memiliki kekeruhan rendah biasanya memiliki warna tampak dan warna sesungguhnya yang sama dengan standar. Ditetapkannya standar warna sebagai salah satu persyaratan kualitas, diharapkan bahwa semua air minum yang akan diberikan kepada masyarakat akan dapat langsung diterima oleh masyarakat.

4.             Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor fisik lingkungan yang paling jelas, mudah diukur dan sangat beragam. Temperatur atau suhu dari air akan menentukan penerimaan (Acceptance) masyarakat akan air tersebut dan dapat mempengaruhi pula reaksi kimia dalam pengelolaan, terutama apabila temperatur air sangat tinggi. Selain itu, temperatur dalam air mempengaruhi langsung toksisitas banyak bahan kimia pencemar pertumbuhan mikroorganisme dan virus.
Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan kenaikan aktivitas secara alamiah biasanya disebabkan oleh aktivitas penebangan vegetasi disekitar sumber air tersebut, sehingga menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang masuk tersebut mempengaruhi akuifer yang ada secara langsung atau tidak langsung.

5.             Kekeruhan
Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan anorganik. Kekeruhan juga dapat mewakili warna. Air yang keruh, apabila air tersebut mengandung begitu banyak partikel bahan yang tersuspensi, sehingga memberikan warna atau rupa yang berlumpur dan kotor. bahan-bahan organik yang tersebar secara merata dan partikel-partikel yang tersuspensi lainnya. Tingkat kekeruhan dipengaruhi oleh pH air. Kekeruhan pada air minum umumnya telah diupayakan sedemikian rupa sehingga air menjadi jernih.
Air yang keruh merupakan suatu masalah yang perlu dipertimbangkan dalam penyediaan air minum, mengingat bahwa kekeruhan tersebut mengurangi estetika, karena dari segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan dan warna air tergantung pada warna buangan yang memasuki badan air.

6.             Total Dissolved Solid (TDS)
Nilai TDS perairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan batuan, limpasan dari tanah dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri). Bahan-bahan terlarut dalam perairan alami tidak bersifat toksin, akan tetapi jika berlebihan akan meningkatkan nilai kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolam air dan akhirnya berpengaruh pada proses fotosintesis di perairan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar